Lindungi Diri dari Leptospirosis Setelah Banjir

Banjir tidak hanya berdampak pada lingkungan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya penyakit menular, salah satunya leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dibawa oleh hewan, terutama tikus, dan dapat menular melalui air banjir atau genangan air yang tercemar.

Penularan leptospirosis terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang lecet, luka terbuka, atau selaput lendir saat seseorang kontak dengan air banjir, genangan air, maupun air kotor lainnya. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan setelah terjadi banjir.

Upaya Pencegahan Leptospirosis

Untuk mengurangi risiko penularan leptospirosis, Puskesmas Pengasih II mengimbau masyarakat untuk:

  • Menutup luka dengan perban atau plester bersih

  • Menggunakan alas kaki tertutup saat beraktivitas di luar rumah

  • Menghindari masuk ke air banjir jika tidak diperlukan

  • Menutup tempat sampah untuk mencegah hewan pengerat

  • Menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup

  • Memasak air hingga matang sebelum dikonsumsi

  • Membersihkan kaki dan tubuh dengan sabun setelah terkena air banjir

Kenali Gejalanya

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot terutama betis, mata merah, lemas, mual, muntah, diare, atau kulit dan mata menguning setelah kontak dengan air banjir.

Leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti gangguan ginjal dan hati, bahkan berisiko menimbulkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat.

Imbauan

Puskesmas Pengasih II mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah penting dalam mencegah leptospirosis, khususnya pascabanjir.

Apabila mengalami keluhan atau membutuhkan informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi atau datang langsung ke Puskesmas Pengasih II.