- oleh Pengasih2_KP2025
- 27 Juni 2026 12:43:03
- 5 views
Sabtu, 27 Juni 2026
Dalam rangka memperkuat upaya pengendalian Tuberkulosis (TBC) melalui peningkatan penemuan kasus secara aktif di masyarakat, UPT Puskesmas Pengasih II menyelenggarakan kegiatan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TBC) pada Sabtu, 27 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan implementasi strategi nasional penanggulangan TBC yang berorientasi pada deteksi dini kasus sebagai langkah preventif dan kuratif untuk menekan angka kesakitan, memutus rantai penularan, serta mendukung percepatan pencapaian target Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia.
Active Case Finding (ACF) merupakan pendekatan penemuan kasus secara aktif yang dilakukan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi atau berada di wilayah prioritas. Berbeda dengan penemuan kasus secara pasif yang bergantung pada kedatangan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan, strategi ACF menempatkan tenaga kesehatan sebagai pihak yang proaktif menjangkau masyarakat melalui kegiatan skrining, edukasi kesehatan, serta pemeriksaan lanjutan bagi individu yang memiliki gejala atau faktor risiko Tuberkulosis. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan cakupan penemuan kasus sehingga penderita dapat segera memperoleh diagnosis dan pengobatan secara tepat waktu.
Pada pelaksanaan kegiatan ini, sebanyak 120 orang telah diundang sebagai sasaran pemeriksaan berdasarkan hasil pemetaan dan identifikasi kelompok berisiko di wilayah kerja UPT Puskesmas Pengasih II. Dari jumlah sasaran tersebut, 76 peserta hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, sehingga tingkat kehadiran mencapai sekitar 63,3%. Meskipun belum seluruh sasaran dapat berpartisipasi, capaian tersebut tetap mencerminkan adanya kesadaran masyarakat yang cukup baik terhadap pentingnya deteksi dini Tuberkulosis sebagai salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Kegiatan diawali dengan proses registrasi peserta untuk memastikan kesesuaian data sasaran serta memudahkan proses pencatatan dan pelaporan program. Selanjutnya, peserta dilanjutkan dengan pelaksanaan skrining aktif terhadap seluruh peserta menggunakan instrumen skrining sesuai pedoman Program Penanggulangan Tuberkulosis. Skrining dilakukan melalui wawancara terkait keluhan batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam yang berlangsung lama, keringat malam, riwayat kontak dengan pasien TBC, serta faktor risiko lainnya. Peserta yang memenuhi kriteria suspek Tuberkulosis kemudian diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk pengambilan spesimen dahak guna dilakukan pemeriksaan laboratorium sesuai standar pelayanan. Proses ini bertujuan untuk memastikan adanya konfirmasi diagnosis sehingga kasus Tuberkulosis dapat segera ditangani secara komprehensif.
Pelaksanaan kegiatan ACF ini tidak hanya berfokus pada penemuan kasus baru, tetapi juga menjadi media untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai Tuberkulosis. Masih adanya stigma terhadap penderita TBC sering kali menyebabkan keterlambatan dalam mencari pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, edukasi yang diberikan diharapkan mampu membangun pemahaman bahwa Tuberkulosis bukan merupakan penyakit yang perlu ditakuti atau disembunyikan, melainkan penyakit yang dapat dicegah, didiagnosis, dan disembuhkan melalui pengobatan yang teratur serta dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini juga tidak terlepas dari sinergi antara tenaga kesehatan, kader kesehatan, pemerintah kalurahan, serta berbagai pemangku kepentingan di wilayah kerja UPT Puskesmas Pengasih II. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan cakupan penemuan kasus Tuberkulosis, mengingat pengendalian penyakit ini memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Dukungan kader kesehatan dalam mobilisasi sasaran, pemberian edukasi, serta pendampingan peserta selama kegiatan berlangsung menjadi kontribusi yang sangat berarti dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan ACF.
Meskipun tingkat kehadiran peserta belum mencapai 100%, hasil kegiatan ini menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan program berikutnya. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan sosialisasi sebelum kegiatan, memperkuat koordinasi dengan kader dan pemerintah kalurahan, memberikan pengingat kepada sasaran melalui berbagai media komunikasi, serta melakukan kunjungan rumah (home visit) bagi sasaran yang belum sempat hadir. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan cakupan partisipasi masyarakat pada kegiatan skrining berikutnya sehingga semakin banyak kasus Tuberkulosis yang dapat ditemukan secara dini.
Melalui penyelenggaraan kegiatan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis ini, UPT Puskesmas Pengasih II menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada upaya promotif dan preventif. Penemuan kasus secara aktif merupakan investasi penting dalam pengendalian Tuberkulosis karena semakin cepat kasus ditemukan dan diobati, maka semakin kecil risiko penularan kepada anggota keluarga maupun masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian akibat Tuberkulosis, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas menuju target Eliminasi Tuberkulosis Indonesia Tahun 2030.